Meraih Kesuksesan Lewat Mimpi (sebuah biography penulis)
Jubah, Toga, dan samir ini tak pernah terbayang saya pakai, andai waktu itu saya tak segera move on dari pahitnya kehidupan. Mungkin saat itu saya tak akan berada di antara mereka duduk dalam jajaran mahasiswa dengan lulusan Cumlaude. Jangankan mengenyam pendidikan setingkat S1, S2, bahkan menjadi seorang Pegawai Negeri.Bahkan semenjak lulus SD dan untuk melanjutkan ke SMP pun saya harus menunggu 3 tahun lamanya. Semua itu hanya karena keadaan ekonomi keluarga yang tak memungkinkan.
Broken home, percekcokan kedua orang tuaku yang terus menerus kami dengar setiap hari setiap malam, yang mengakibatkan ambruknya bahtera rumah tangga dan berakhir dengan perpisahan. Kedua orang tuaku berpisah saat saya masih duduk di kelas 2 SD. Hal tersebut membuat saya dan kedua saudara saya tak banyak berkhayal tuk bisa menikmati pendidikan. Ya, pendidikan, layaknya teman lain yang bisa merasakan nikmatnya bangku pendidikan tanpa harus kesusahan.
Tahun demi tahun kami bertiga (kakak serta adik) menapaki kehidupan dalam kesengsaraan dan jauh dari kasih sayang orang tua. Masing-masing kedua orang kami memikirkan kehidupannya. Ibu saya menikah dengan pria lain dan pergi meninggalkan kami semua. Kami tak tahu semua ini salah siapa.
Kerasnya kehidupan waktu itu telah membuat kami semakin jauh dari kesan bahwa masa anak-anak adalah masa bahagia, yang seumur saya banyak waktu tuk bermain, namun sebaliknya masa anak-anak adalah masa dimana kami harus menentukan pilihan, duduk termenung dan menyesali nasib kehidupan atau berjuang untuk bisa survive, move on dan lanjutkan perjalanan.
Ketika masa sekolah SD hampir berakhir, kucoba berpikir untuk bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, SMP Negeri 1 Limpung, sebuah sekolah yang sangat saya impikan dan menjadi dambaan bagi setiap lulusan sekolah dasar di desa sekitar kota kecamatan Limpung.
Nasibpun berkata lain, lagi- lagi soal ekonomi, keuangan keluarga yang tak memungkinkan. Saya harus rela dan menahan rasa sedih ketika tahun ajaran baru telah tiba. Ketika kulihat teman-teman memakai seragam celana biru pendek dan baju putih bertuliskan SMP N 1 Limpung pada badgenya, sontak saya hanya bisa menangis seraya berdoa, Ya Allah, kapan saya bisa seperti mereka? Bersambung
Komentar
Posting Komentar